15 September 2014

Tersesat

BLOG. Telah lama saya tinggalkan. Tidak menulis lagi di blog. Tersesat. Sosial media, Facebook, Twitter terlalu meminta perhatian. Saatnya kembali. Tak ingin tersesat lagi.

Untuk memulai lagi. Sekedar berlatih menulis kalimat demi kalimat, saya menyalin paragraf berikut dari artikel tulisan Ariel Heryanto dalam buku 1000 Tahun Nusantara halaman 543.
Hingga di akhir abad ke-20, masayrakat ideal itu tetap menjadi angan-angan, slogan dan cita-cita belaka bagi kebanyakan masayrakat di dunia yang tercabik-cabik rasisme, seksisme, kesenjangan kaya-miskin atau korupsi politik. Akan tetapi, angan-angan dan slogan 'bangsa-negara' seakan-akan telah ditelan mentah-mentah jutaan penduduk dunia. Kebangsaan dan
kewarganegaraan diterima bulat-bulat dan bersemangat. Berjuta-juta orang telah rela, kata Benedict Anderson, " bukannya membunuh orang lain, tetapi mati" demi yang namanya bangsa. Juga untuk bangsa kecil yang ingin memisahkan diri dari bangsa besar yang selama ini merangkumnya.
Masih dari artikel yang sama, lima paragraf di halaman 544 dan 545,
Empat novel bersambung (tetralogi) karya Pramoedya Toer yang ditulisnya dalam pengasingan di Pulau Buru telah menjadi salah satu puncak terbesar di abad ke-20 ini bukan saja sebagai karya sastra dari penulisnya melainkan juga bagi seluruh kesusastraan bangsa Indonesia, jika bukan Asia Tenggara.
Tanpa tandingan, karya itu menguak sejarah terbentuknya bangsa negara Indoensia dengan aneka kompleksitasnya, termasuk apa artinya menjadi Indonesia bagi seorang petani, pelacur, pemuda, istri, wartawan, polisi hingga preman. Ia menjungkirbalikkan sejumlah mitos Departemen Pendidikan Kebudayaan dan Departemen Penerangan setiap hari berpuluh tahun kepada jutaan anak sekolah sebagai pelajaran sejarah nasional. 
Tidak mengherankan, itulah karya sastra Indonesia yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa asing dan meraih penghargaan internasional terabanyak, termasuk beberapa kali pencalonan penulisnya sebagai pemenang hadiah nobel.
Akan tetapi itu, itu baru separo cerita dari yang sering ditulis orang. Separo yang lain melengkapi sejarah Parmoedya sebagai sejarah sosial abad ke-20. Belum pernah ada penghinaan dan penindasan baik terhadap karya sastra maupun pembaca yang mengaguminya sehebat yang dialami tetralogi itu. Ironisnya penindasan itu, terjadi di tanah airnya sendiri. Kisah abad ke-20 di dunia, dan Indonesia khususnya, bukan hanya kisah manusia berbudaya dan berprestasi. Ini juga kisah kebiadaban, penghancuran, penindasan, kebencian terhadap karya budaya.
Seperti nasib hampir semua karya Pramoedya yang lain, Tretralogi Buru dinyatakan sebagai barang terlarang oleh Kejaksaan Agung dibawah rezim Orde baru. Pelarangan buku bukan hal aneh dalam sejarah Indonesia, khususnya di zaman kolonial awal abad ke-20 dan zaman Orde Baru. Akan tetapi, belum pernah ada kebencian penguasa negara di Indonesia di sepanjang abad ke-20 terhadap sastrawan dan karya sehebat terhadap Pramoedya dan karyanya. Larangan itu meluap-luap dan memakan lebih banyak  korban ikutan.
Linu, kaku lama tak mengetik panjang.