17 Desember 2011

Ketika Itu (sebuah catatan untuk AF)

saya copykan sebuah tulisan di wall facebook saya (sunday, November 20, 2011. 8.40), dari salah satu siswa saya, AF, di kelas 11. Saya ingin berbagi jawaban tentang pertanyaan ini, semoga menginspirasi.

ANANG FAUZI
saya mau tnyak bgaimna bpk bisa mnjadi sukses hingga saat ini?... padahalx dahulu bpk tinggal di pelosok desa glantangan, yg mnurut saya itu jauh dari sarana unt mnunjang seorang dlm mraih pendidikan . dan apa komitmen anda saat itu?...... tlong jwb pak krena ini membuat terkesan!!!!

AF, terima kasih memuji saya. Saya senang, saya bisa menginspirasi hidup Anda. Terima kasih sobat, mengenal kampung saya bernama 'Glantangan' yang sering diplesetkan menjadi "Gelandangan", sebuah kampung khas PTP (perusahaan perkebunan karet kopi) yang membedakan anak pejabat dan anak-anak buruh perkebunan. Saya adalah salah satu dari anak -anak buruh itu, anak-anak yang waktu itu dihalangi untuk melanjutkan sekolah ke kota, karena harga komoditas perkebunan sedang berjaya di pasar internasional dan PTP memerlukan buruh-buruh bodoh yang bisa dibayar murah.

Pegasis

Selamat datang Pegasis". Begitu aku menyapanya kepada seseorang yang kelak akan dikenal sebagai guru kelas lima. Tak banyak orang tahu tentang nama itu karena di sekolah ini,  ia akrab dipanggil Leona tanpa kata 'bu' atau 'ibu' di depan namanya. Leona.

Aku mengingat hari pertama kali ia datang ke sekolah ini. Pagi sekali. Leona menyentuh dan menciumku berkali-kali di halaman upacara. Aku merasakan airmatanya membasahi sebagian merah dan sebagian putihku. Pelan ku dengar suaranya seperti berbisik dan menciumku sekali lagi. "Sahabat, aku terpanggil karenamu. Aku datang memenuhi panggilanmu. Aku tahu, di sini bukan untuk mencari harta. Di sini bukan tempat untuk bisa kaya. Tetapi aku tahu, sekolah adalah tempat terindah di dunia, tempat bahagia anak-anak kita mencari ilmu, mengumpulkan butir-butir permata untuk bekal hidup mereka, tempat yang tak kan pernah terlupa bagi anak-anak kita di sepanjang hidupnya. Pertiwi, Aku terpanggil karenamu".

Di setiap Hari Senin, saat ratusan anak-anakku mengangkat tangan sejajar dengan topinya, meghormatku, menaikkanku, aku melirik sahabatku Pegasis. "Sobat, aku rindu kecupanmu, selamat berjuang, bangsa ini merindukannmu."

SDN Bintoro 3 Jember
Hujan
November 16, 2001

Aku dan Kepalaku

Aku adalah badanku yang tak pernah ke mana-mana. Bila aku ke mana-mana, hanya kepalaku yang berjalan ke mana-mana. Presentasi di mana-mana,  juga berjalan dan terbang sampai ke beberapa benua.

Aku adalah badan yang bisa terawat bila kepalaku berbicara tentang perawatan. Aku akan tampak cantik bila kepalaku mengerti tentang keindahan. Aku akan bersih bila kepalaku tau manfaatnya. Aku adalah hal istimewa bila kepalaku memahami. Aku menaungi. Aku meneduhi.

Aku selalu hamil walau aku sebenarnya bukan perempuan jugan bukan lelaki. Dari perutku lahir ribuan anak-anak sempurna juga anak-anak cacat. Aku dan anak-anak yang akan kulahirkan, empat puluh persen tergantung kedigdayaan kepalaku. Mereka adalah generasi yang akan memperindah dunia dan mengobarkan semangat perdamaian dan kejujuran. Aku melahirkan ribuan anak-anak kehidupan, anak-anak yang kelak akan mampu berbicara dengan kepalaku sendiri. Aku hanya mengerti bila kepalaku mengajak bicara, tetapi aku ditakdirkan tak bisa bicara dengan kepalaku sendiri, kecuali alam mendukungku: angin, badai, topan dan gempa.

Aku. Namaku panjang tetapi mudah di ingat, karena aku selalu punya nama depan yang sama di seluruh dunia: sekolah.

Catatan Satu Paragraf Untuk Sahabat

Boleh jadi tugas mulia ini tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Boleh jadi kau mendaftar di fakultas hanya karena ikut ikutan teman atau mengangap pekerjaan ini yang termudah, pulang tak sampai sore, tak sulit izin meninggalkan tugas. Sudahlah, itu masa lalu. Datanglah besok lebih pagi, berdirilah di depan kelas sebelum mereka datang, tersenyumlah dan katakan, "Sekarang akulah teman setiamu nak , menemanimu mewujudkan mimpimu."