17 Desember 2011

Empowering Guru: Seminar dan Workshop Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis ICT (GRATIS)

Saya melihat ada pergerakan positif tentang keinginan guru untuk meningkatkan kompetensi mengajarnya. Walaupun jumlahnya belum begitu besar secara nasional, tetapi hal ini merupakan signal positif untuk pendidikan di negeri ini.

Nah, saya punya pengetahuan yang bisa saya bagi secara GRATIS, bagi guru-guru yang berminat menggunakan media PowerPoint di dalam kelas.

Karakteristik PowerPoint untuk dapat digunakan sebagai media di dalam kelas berbeda dengan PowerPoint yang digunakan untuk presentasi bisnis, film dll. Selama ini, begitu banyak kita saksikan di sekolah, di kampus, guru, dosen menggunakan powerpoint yang justru menghambat pembelajaran yang kreatif, siswa atau mahasiswa menjadi pasif, jenuh dan membosankan. Guru atau dosen sibuk sendiri dengan laptopnya, dua jam tidak beranjak dari mouse-nya, cenderung mengabaikan apa yang sedang terjadi di belakang sana dengan siswa atau mahasiswanya. Dan seringkali hal ini menjadi olok-olok 'pembelajaran berbasis LCD'. 

Para pakar tehnologi pendidikan telah berkomentar puluhan tahun lalu bahwa guru harus meninggalkan tehnik ceramah di dalam kelas, agar terjadi interaksi yang humanis dengan para siswa, mendorong tumbuhnya keyakinan siswa untuk melakukan eksplorasi secara mandiri dan berusaha dengan sungguh-sungguh menciptakan pembelajaran yang inovatif, kreatif,efektif, dan menarik (PAIKEM). 

Inovatif, seringkali dipandang sebagai tehnologi canggih, laptop, LCD, WiFi, lab bahasa, papan tulis electronic dll, memandang rendah menggunakan tehnik drama, role play (bermain peran), pemanfaatan bahan bekas di sekitar siswa, permainan kelompok, diskusi, debat dll.

Pembelajaran berbasis ICT tidak akan pernah berhasil. Saya setuju dengan pandangan Phillip Rekdale, bahwa pembelajaran berbasis ICT adalah retorika belaka alias tidak bermutu. Pandangan saya juga senada bahwa tidak ada yang bisa menggantikan peran guru sebagai fasilitator, motivator kreatif bagi kehidupan siswa yang selalu unik setiap hari. 

Tetapi harus pula diakui, oleh karena rumitnya suatu konsep yang ingin disampaikan kepada siswa, situasi yang mendukung, PowerPoint adalah media yang dahsyat untuk digunakan di dalam kelas. Powerpoint yang seperti apa? bagaimana cara membuatnya? sumber-sumber apa yang bisa digunakan? bagaimana menghubungkan dengan RPP guru? bagaimana menempatkan PowerPoint secara tepat guna? bagaimana membuat yang sederhana sehingga betul-betul efektif di dalam kelas? saya dapat menjawabnya dalam suatu seminar atau workshop khusus untuk guru.

Saya bisa memberikannya dengan GRATIS sebagai layanan sosial. Guru membawa sendiri laptopnya, atau sekolah menyediakan laptop yang memang bisa digunakan secara bersama-sama disekolah. Pelatihan minimal di ikuti 10 orang guru dan maksimal 25 orang (workshop) dan tidak terbatas (seminar) dan menyediakan ruang pelatihan sendiri seperti di sekolah atau tempat yang memungkinkan. 

Materi pokok pelatihan ini adalah pembuatan media pembelajaran berbasis ICT di dalam kelas, sedangkan basis pembelajaran tetap menggunakan tehnologi yang humanis dan tak akan pernah tertandingi di dunia yaitu pembelajaran berbasis siswa (student centered learning).

Perbedaan bentuk pelatihan seminar dan workshop adalah sperti ini:
seminar: peserta tidak terbatas, sesuai ruang, durasi 90 menit, sudah termasuk seremonial (kalau ada), tidak perlu bawa laptop, saya telah membawa simulasi program. Target utama: pemahaman tentang pemahaman, pengetahuan tetang tehnologi pembelajaran di dalam kelas dan contoh-contoh presentasi yang efektif dapat di copy secara gratis, guru dapat mempraktikannya di rumah atau di waktu luang mereka di sekolah. Saya membawa perlngkapan sendiri laptop dan sound system tetapi saya tidak punya LCD untuk presentasi sehingga sekolah (panitia) menyediakan sendiri.
workshop: peserta terbatas, minimal 10 orang maksimal 25 orang, durasi 180 menit sudah termasuk seremonial (kalau ada), peserta sudah bisa mengoperasikan fitur-fitur dasar PowerPoint, membawa RPP yang sudah dalam bentuk softcopy dalam dokumen word atau excel, target utama: pembuatan media pembelajaranan berbasis ICT, guru membawa laptop atau sekolah menyediakan yang sudah terinstall PowerPoint. Saya membawa perlngkapan sendiri laptop dan sound system tetapi saya tidak punya LCD untuk presentasi sehingga sekolah (panitia) menyediakan sendiri.

Segera hubungi saya, kesempatan ini terbatas, karena waktu saya juga terbatas.

Sementara hanya  untuk guru di wilayah Jember, Bondowoso, Banyuwangi. Tempat lain, masih menunnggu teman-teman guru lain yang bersedia menjadi volunteer (sukarelawan). Jika Anda adalah guru yang juga ingin berbagai pengetahuan kepada guru lain tentang tema ini (pembuatan media pembelajaran berbasis ICT), bersedia bekerja tanpa dibayar, mendukung misi empowering guru,  hubungi saya dan ikuti pre-departure workshopnya bersama saya di SMK NEGERI 1 JEMBER. 

Diskusi Dengan Phillip Rekdale- Konsultan Depdiknas-Tehnologi Pembelajaran

Riyadi Ariyanto di www.englishviasms.wordpress.com : Bagi Guru atau dosen yang tinggal disekitar Kabupaten Jember, ikuti pelatihan "pembuatan media pembelajaran berbasis ICT" GRATIS dari saya.

Phillip Rekdale: ‎"Student presentations can take a form of traditional PowerPoint presentation or creative approach that includes role plays, drama etc. Such group-works foster abilities to work in teams, which is essential in today's workplace.
"Presentasi Oleh Pelajar Memakai PowerPoint Dianggap Tidak Kreatif.
http://pt.metodologi.com/
Salam Teknologi Pendidikan

Riyadi Ariyanto: Oleh sebab itulah, pelatihan ini dimaksudkan. Apa dan bagaimana PowerPoint bisa powerful sbg media. Jangan pukul rata. dong. Mind set yang terlanjur tertanam adalah mengajar pakai PowerPoint itu mewah, canggih dll. nah di pelatihan kami akan ungkapkan, bagaimana PowerPoint yang powerful, bagaimana yg useless. nah, oc?

Phillip Rekdale
: Apa Teknologi Yang Terbaik Sebenarnya?
"Biasanya Teknologi yang dapat menstimulasikan "discovery learning" dan membangunkan proses analitikal dan problem solving, "berbasis-kreativitas pelajarnya" adalah teknologi yang sesederhana mungkin untuk mencapaikan tujuan pembelajarannya. Makin sederhana makin banyak mereka terpaksa menggunakan kreativitas mereka sendiri, maupun berpartisipasi dalam proses pembelajaran"
http://teknologipendidikan.com/kebijakan-ict.html
Salam Teknologi Pendidikan

Riyadi Ariyanto: Ya setuju, bahwa media yang digunakan oleh guru harus mampu menstimulasi siswa untuk menggali lebih dalam secara mandiri. Saya setuju pandangan semakin sederhana media itu akan semakin mendorong discory learning dari di dalam siswa. Lihat fakta yang terjadi? Jutaan guru mendambakan mengajar dengan PowerPoint (LCD), saya berkeliling ke banyak sekolah dan universitas, melihat presentasi dgn PowerPoint yang useless, membingungkan, bahkan membosankan.

Riyadi Ariyanto: seringkali PowerPoint bukan membantu siswa belajar, tetapi hanya sekedar membantu guru atau dosen sendiri. Mereka kehilangan kreativitas, siswa mendengarkan, menonton teks-teks tak berarti, sementara guru atau dosen dua jam tak beranjak dari mouse-nya. Nah, bagaimana menjelaskan ini semua, pelatihan saya ini akan mengungkapkan hal itu. Saya akan berusaha memberikan gambaran bagaimana menggunakan PowePoint yang powerful, mana yang harus ditinggalkan.

Phillip Rekdale:  Kita harus mengarah ke "Pembelajaran-Aktif dan Kontekstual" yang dapat dijalankan di Seluruh Indonesia Sekarang, Tidak Perlu Komputer.
http://Metodologi.Com/
Kalau guru menggunakan LCD saja ini biasanya adalah sangat bahaya karena yang dilaksanakan adalah Pembelajaran-Pasif (Guru atau LCD Centered Learning).

"Guru Masih Terlalu Dominan di Kelas"
(Professor Fasli Jalal - Wakil Menteri)
"JAKARTA, KOMPAS.com - Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas.

"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa." -- Fasli Jalal
http://Pendidikan.Net/
Ini Masalah Utama Dengan Menggunakan Teknologi Canggih Juga. Pembelajaran-nya menjadi Teknologi Centered dan Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa. Salam Teknologi Pendidikan

Riyadi Ariyanto:  Pandangan pemerintah yang menghitung rasio penggunaan komputer dengan jumlah siswa untuk efektifitas pembelajaran berbasis TIK adalah pandangan dari yang termudah bahkan mendekati keliru. Saya seorang guru yang melihat ratusan komputer tergeletak tak berguna di sekolah-sekolah jug di universitas tanpa perawatan. Mereka menerima lagi, mereka membeli lagi. Duh. saya sering merinding melihat itu semua. sebuah sekolah dengan 1200 siswa punya 400 komputer canggih, tapi tak berdaya apa-apa. Mengapa bisa begini? Pandangan sekolah mungkin juga pemerintah masih menganggap bahwa komputer itu adalah mesin ketik kalau jaman dulu, sehingga harus pegang satu-satu. satu anak satu mesin ketik. Ah, ini yang harus di luruskan. SEGERA. Minim sekali yang berfikir bahwa sebuah laboratorium komputer yang berisi 8 unit, dipandang sebagai studio atau bengkel kerja dan digunakan bila ada kompetensi yang memang lebih efektif dikerjakan di komputer. Faktanya, sekarang lab yang sempit berisi 40 unit komputer acak-acakan, sangat tidak efektif, membunuh kreatifitas tetapi masih menjadi mimpi (CITA-CITA) bagi sekolah-sekolah. Nah, siapa yang bisa mensosiallisasikan ini semua, siapa yang bisa berbuat yang bukan hanya berbicara di gedung-gedung pendidikan di Jakarta, siapa yang peduli terhadap semua itu?

Riyadi Ariyanto: ‎"Guru Masih Terlalu Dominan di Kelas"
(Professor Fasli Jalal - Wakil Menteri)
"JAKARTA, KOMPAS.com - Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas.

Bagus kan Prof. Fasli Jalal, saya setuju buanget. sayangnya Prof, tidak bisa berhenti dengan seperti itu karena bapak prof. adalah bapak saya, karena saya adalah seorang guru. Apa sebenarnya yang terjadi pada anak-anaknya di seluruh Iindonesia, terutama jika sudah berfikir tentang komputer?

Phillip Rekdale:  Re: "saya sorang guru yang melihat ratusan komputer tergeletak tak berguna di sekolah-sekolah juga di universitas tanpa perawatan"

Perawatan adalah salah satu masalah besar... Di negara maju sama. Tadi saya sebut: "ICT dapat membunuh kreativitas, sangat terbatas oleh kekurangan infrastruktur, maupun biaya perawatan yang sangat mahal, banyak sekolah tidak dapat merawat sekolah saja, maupun ratusan komputer (puluhan juta secara nasional)...."
Jangan kuartir... Di luar negeri banyak komputer juga disimpan di gudang sekolah setelah guru-guru sadar bahwa Pembelajaran Berbasis-ICT hanya adalah retorika (tidak bermutu)... Pasti sama di sini nanti dan semoga setelah itu ada cukup komputer untuk mencapaikan Mata Pelajaran TIK di semua sekolah yang adalah penting untuk kerja. :-)
Sabar saja... Yang penting menuju pendidikan yang bermutu
http://Metodologi.Com/
Salam Teknologi Pendidikan

Riyadi Ariyanto: ok setuju, saya sudah sering juga mendengar bapak saya bilang sabar, sabar, sabar, seolah-olah ini tidak berhubungan dengan generasi bernama manusia.

Selesai

Sejumlah Percobaan Menarik Tuhan Ke Dalam Ruang Ujian

KARAWANG - Jelang ujian nasional (UN), ratusan pelajar SMK PGRI Jatisari, menggelar ISTIGHOSAH dan doa bersama.

BEKASI BARAT- Sebanyak 212 siswa kelas III program kejuruan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) SMK Bina Mandiri Bekasi, mengikuti ISTIGHOSAH atau doa bersama serta zikir.

PURWAKARTA - Sebanyak 508 siswa SMKN I Purwakarta di Kecamatan Babakancikao, menggelar ISTIGHOSAH dalam menghadapi ujian nasional (UN).

PANGKALPINANG - Menjelang Ujian Nasional (UN), Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Pangkalpinang menggelar ISTIGHOSAH, zikir dan doa bersama.

MAJALENGKA - Terkait peningkatan kesiapan spiritual siswa yang akan mengikuti Ujian Nasional, ratusan siswa SMAN 1 di Kabupaten Majalengka, menggelar ISTIGHOSAH dan dzikir bersama.

SUMENEP - Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, ratusan siswa SMA Negeri 1 Sumenep, menggelar ISTIGHOSAH di aula sekolah setempat.

LEBAK - Menghadapi UN, pelajar SMAN 1 Malingping menggelar ISTIGHOSAH atau doa bersama di sekolah.

BLITAR - Sebanyak 1500 pelajar putra dan putri kelas 12 tingkat SMA, SMK, MA se-Kota Blitar mengikuti ISTIGHOSAH.

MATARAM - Ribuan siswa dan guru melaksanakan ISTIGHOSAH akbar di masjid raya attaqwa Mataram, NTB.

GROBOGAN - Siswa kelas XII SMA Negeri 1 Purwodadi menggelar ISTIGHOSAH dan doa bersama di lingkungan sekolah setempat.

TANGERANG, Sedikitnya 18 ribu pelajar tingkat SMP dan SMA Kota Tangerang mengikuti ISTIGHOSAH dan doa bersama, yang digelar di Masjid Raya Al Adzom.

BANDUNG - Ratusan siswa SMKN 1 Bandung Jalan Wastukencana mengikuti ISTIGHOSAH menjelang ujian nasional dan melakukan shalat dhuha , membaca Al-quran, dzikir dan doa bersama di lapangan sekolah.

SERANG - Menjelang ujian nasional yang akan diselenggarakan senin pekan depan ratusan siswa-siswi SMA dan SMK se-Kota Serang dan se-Kabupaten Serang, Banten, mengelar ISTIGHOSAH di Masjid At-Tsauroh Kota Serang.

BOGOR - Menjelang Ujian Nasional atau UN, sejumlah sekolah di Cibinong menyelenggarakan ISTIGHOSAH.

LAMONGAN - Untuk mempersiapkan mental siswa agar siap menghadapi UN, SMA NEEGERI 1 SUKODADI menfasilitasi kegiatan ISTIGHOSAH.

GARUT- Sebanyak 397 siswa SMKN 1 Tarogong Kidul Garut ISTIGHOSAH di lapangan olah raga.

JEMBER - Jelang pelaksanaan ujian nasional (Unas) ribuan pelajar SMA/SMK/MA dan SMP sekabupaten Jember mengikuti ISTIGHOSAH atau doa bersama di Masjid Jami Al Amin alun-alun. 

JOMBANG - Menjelang Ujian Nasional (UN) ribuan siswa-siswi di Jombang menggelar ISTIGHOSAH dan doa bersama.

MALANG - Sebanyak 1.500 siswa dan orang tua siswa peserta ujian nasional di SMU Negeri 1 Kepanjen, menjalankan aksi ihtiar batin menghadapi ujian nasional berupa ISTIGHOSAH atau doa bersama.

DAN BANYAK- ISTIGHOSAH lagi di google untuk ujian nasional.


Semoga Menginspirasi.

11 Desember 2011

Untuk YK

Aku membaca catatankau di atas bis dalam perjalanan dari Jember menuju Banyuwangi setelah kuserahkan uang sepuluh ribu kepada kondektur. Aku membawa ransel, sepatu trekking dan topi rimba, tapi aku lupa ‘mencangking’ kacamata. Dan aku membawa virus untuk otakkau, bersiaplah untuk tertular jika kau tak kebal.

YK, aku ingin berbagi dengankau tentang hidup yang kau sebut penuh liku-liku. Aku ingin meluruskan carakau mendefinisikan bahagia yang menurutkau adalah suatu keadaan seseorang yang terpenuhi akan segala keinginan dan harapannya. Bagaimana bisa kau menilai apakah seseorang itu bahagia dan kecewa? standar apa yang kau gunakan bahwa aku adalah gembira atau sengsara? Apakah kau menilai manusia dengan apa yang ia pakai, dengan apa yang ia bawa, dengan apa ia pasang dinamanya? aku ingin mengentutikau. Sebab orang menagis belum tentu susah. Sebab orang tertawa belum tentu bahagia.

YK, manusia dilahirkan tidak dalam keadaan baik juga tidak dalam keadaan buruk, persis seperti binatang. Bedanya, kita punya kesempatan untuk menjadi manusia, sedangkan mahluk yang lain hanya bisa merindukan proses ini. Kera, adalah mahluk paling mendekati rupa manusia. Seekor kera menyimpan kerinduan yang mendalam untuk mencapai kesempurnaan manusia. Kerinduan pada kesempurnaan inilah yang memungkinkan seekor kera bisa berhati manusia. Sedangkan manusia yang kehilangan rindunya pada kesempurnaanya adalah mahluk berupa manusia tapi berhati kera.
Sesungguhnya, kerinduan akan kesempurnaan sebagai manusia inilah yang menjamin kita bisa disebut manusia. Tanpa itu, kita adalah monyet, buaya, cacing atau yang lainnya. Adakah kau rasakan kerinduan itu?

“Tak ada mahluk yang sempurna”. Ini propaganda setan yang sengaja disebarkan agar mahluk bernama manusia menjadi frustasi, pesimis dan merasa tak mungkin mencapai kesempurnaannya. Kesempurnaan menjadi jauh, dan kemudian sulit untuk didefinisikan. Setan menggantinya dengan kata “bahagia”. Lantas semua orang mencari kesana kemari, berlomba, mensyahkan segala cara agar bertemu ‘bahagia’. Hasilnya, kita tersesat di rimba raya propaganda dan bujuk rayu belilah ini belilah itu. Lihatlah, agama kita kuwalahan, hingga harus mengiming-imingi kita dengan surga dan menakut-nakuti kita dengan neraka, agar manusia mau kembali kepada usaha mencapai kesempurnaan. Politik iming-iming inilah yang kemudian hari terus menerus memandu manusia menjadi rakus, serakah, korup dan bahkan tega membunuh demi sebuah kata bernama ‘bahagia’.

YK, bahagiakah kita? Tidak YK, sama sekali tidak. Semakin kita cari di luar sana, semakin kita tidak menemukannya. Kenapa, YK? Karena bahagia itu adalah jelas-jelas hanyalah ilusi agar kita semakin tersesat. Jauh, jauh dan semakin jauh. Keburukan atau kejahatan itu tidak berasal dari luar sana. Itu berasal dari dirikau sendiri. Oleh karena itu, kau tak usah menyalahkan dirikau sendiri saat kau berbuat salah, sekaligus jangan merasa kau tak bertanggungjawab atas keburukan itu. Sama juga YK, kebaikan juga tak datang dari luar sana, dia ada dalam dirikau sendiri, dia adalah kerinduan akan datangnya kesempurnaan menjadi manusia, hakikat kita di ciptakan.

YK, di Hari Minggu aku bisa mencium harum parfumkau saat kau berangkat ke gereja. Apa kau bertemu Tuhan disana? Apa kau kesana demi iming-iming itu? Tuhanmu mengabulkan do’akau? Apakah orang-orang disana mengajakkau pada ilusi ‘bahagia’ juga?

YK, Apakah kau merasakan seperti yang aku rasa, saat aku di masjid di Hari Jum’at, HP ku tenggelam ke air disalah satu kamar mandinya. Itu HP mahal YK, senilai dua bulan gajiku. Dan sumpah, aku menyesal pergi ke masjid, dan berjanji tak kan kesana lagi. Toh Tuhan tidak mengerti susah payahnya aku bisa memiliki HP pujaanku. Lantas dengan segala daya, aku curi uang di laci kantorku untuk mengganti HP kesayanganku.

Dengan demikian, bukankan aku menempatkan HP derajatnya lebih tinggi dari Tuhanku? bukankah dalam sehari-hari kita lebih percaya harta benda yang kita punya dari pada pertolongan Tuhan? bukankah kita lebih percaya uang (nyata) daripada Tuhan (abstrak)? bukankah hari-hari kita hanya dipenuhi ketakutan kita menjadi miskin? bukankah hari-hari kita terus disiksa mempertahankan jabatan, pekerjaan daripada menyampaikan kebenaran? bukankah kita lebih hormat pada atasan, rekanan, juga kawan daripada orang tua kita sendiri? bukankah kita sehari-hari disibukkan membeli apa yang kita inginkan daripada apa yang kita butuhkan?

YK, sungguh kita hidup dalam rimba tipu daya.

YK, apakah kita manusia YK? Tidak YK. Kita adalah monyet.

Jember, 15 Maret 2011