21 Januari 2011

22 Desember 2010

dan aku ingin kau tidak bergantung berlebihan pada siapapun, punya kesempatan yang lebih daripada aku dan menghadapi sedikit saja kesulitan. Aku senantiasa membantu mewujudkan impianmu, mengajarimu berlari, mengikat tali pancing dan mewarnai layang-layang, memberikan tempat terbaik di pundakku agar kau dapat jelas melihat rombongan sirkus. Aku tidak memanjakanmu diwaktu sakit agar kau belajar bertahan, melupakan apa yg kuinginkan agar dapat memberi apa yang kau butuhkan. Aku ayahmu, sering tak tampak di fotomu, karena aku yg memotretmu. aku memang sering tak tampak di rumah sakit, karena ayah tahu kau tak cukup hanya ditunggui.

dan aku sering tak ada dalam pikiranmu.

SELAMAT HARI IBU, 22 Desember 2010

TKBM - SMP Terbuka

Saya mengunjungi beberapa TKBM (tempat kegiatan belajar mandiri) SMP TERBUKA, atas inisiatif pribadi untuk melihat langsung proses kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak yang kebetulan kurang beruntung secara ekonomi. Saya melihat kegiatan siswa dan aktifitas guru, fasilitas, dan kurikulum yang di selenggarakan di TKBM.

Saya kaget, ternyata ada ribuan anak yang tersebar di TKBM. "sungguh tidak masuk akal", begitu saya melihat jumlah itu. saya tidak punya pengetahuan sama sekali pada area ini. Setahu saya, beberapa SMP negeri di kecamatan mengeluh kekurangan siswa, konon katanya karena keberhasilan progam keluarga berencana. ternyata tidak begitu adanya.

Siswa TKBM-SMP Terbuka tidak mendapatkan fasilitas pendidikan semestinya. Mereka belajar di ruang-ruang darurat, "lesehan" di emper masjid, musholla, di bawah pohon, dan beberapa lagi terlalu dekat dengan kandang ayam atau kandang kambing. Kebanyakan mereka adalah siswa perempuan dari keluarga miskin dan berpendidikan rendah (baca: buta huruf). mereka menggunakan seragam SMP hasil iuran honorarium guru-guru mereka yang tak lebih dari  Rp.150.000 sebulan. Mereka menggunakan pakaian olah raga dari dana  permerintah (BOS) yang dirupakan kaos olah raga dan bola volley oleh SMP induknya (SMP Negeri). Hampir sama sekali tidak ada program pembinaan dari pihak manapun, walupun secara aturan lembaga mereka harus mendapat pembinaan dari kordinator daerah melalui SMP induk.

Saya melakukan sharing dengan beberapa guru, pengelola, pengurus dan beberapa siswanya. Saya mendapat hidangan teh hangat. kami membicarakan gagasan sederhana berjam-jam sampai saya lupa pulang. berikut adalah catatan saya dalam diskusi itu:

1. Posisi Strategis
Pegelolaan TKBM-SMP terbuka di kabupaten Jember, banyak diselenggarakan di pondok-pondok pesantren dengan latar belakang pendirian yang beragam. Saya melihat peran pesantren yang signifikan untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun. TKBM-SMP TERBUKA di pesantren memiliki peran strategis agar anak masih besedia melanjutkan sekolah setelah SD. Saya belum melihat data statistik kabupaten jember, berapa jumlah lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Tetapi jika melihat dari jumlah siswa yang tersebar di TKBM-SMP TERBUKA, angka putus wajib belajar ini tidak akan kecil.

2. Mayoritas Perempuan
dugaan saya adalah, masih banyak orang tua di Jember yang memandang bahwa pendidikan lebih penting bagi anak laki-laki. orang tua menitipkan anak perempuannya ke pondok pesantren dengan maksud mereka belajar ilmu agama atau kerumahtaggaan dan berharap tak lama kemudian mendapat lamaran dari calon suami (menikah). kehadiran TKBM-SMP TERBUKA di pondok pesantren akan sangat menolong untuk mengurangi praktik kawin muda, setidaknya siswa sampai lulus SMP.

3. SMP Induk
beberapa SMP induk (SMP negeri) yang di tunjuk, kurang melakukan pembinaan (bahkan di beberapa lembaga tidak pernah datang sama sekali). Guru-guru mereka adalah mirip sukarelawan-sukarelawati yang berjuang mengajar muridnya menurut keyakinan mereka masing-masing.

4. Sosialisasi.
banyak masyarakat tidak tahu, apa TKBM- SMP TERBUKA itu,  bahkan siswa sendiri banyak yang tidak tahu. Tidak ada rasa percaya diri dari siswa, guru atau pengelola. mereka seperti mengalir saja sampai mereka bosan sekolah atau sampai ada seseorang lelaki melamarnya.

kondisi diatas tentu tidak bisa di generalisasi atau semua TKBM- SMP TERBUKA bisa disebut seperti itu. Sekali lagi saya hanya melihat beberapa.

kemudian kami membicarakan gagasan paling krusial tentang TKBM yang ingin kami 'follow up' awal tahun nanti.

Masalah Apa Kasus?

Catatan berikut adalah menjawab pertanyaan beberapa kawan saya di Komunitas Sosial “GKSR" (GURU KITA SEORANG RELAWAN), tentang apa yang beda dari  strategi belajar “Case Study” dan “Poblem Solving"

"Problem solving” (Belajar Berbasis Masalah)

Belajar Berbasis Masalah merupakan strategi proses belajar mengajar yang secara simultan mengembangkan daya berfikir dengan menempatkan siswa sebagai praktisi atau orang yang dapat memecahkan masalah (Cruickshank, 2002).

Tahap pemilihan masalah menjadi hal yang paling krusial dari strategi ini. Masalah yang dipilih seharusnya cukup menantang kreatifitas siswa dan masalah tersebut dapat dicari jalan keluarnya serta terbuka dengan beberapa alternatif pemecahan masalah. Tetapi, masalah yang dipilih seharusnya bukan masalah yang dapat membuat siswa berfikir terlalu jauh dari hasil akhir belajar yang diharapkan.

Strategi Belajar Berbasis Masalah ini dimaksudkan untuk menciptakan dialog dalam kelompok, tentang pengetahuan yang dapat dibawa siswa kedalam masalah itu. Siswa  dapat menemukan informasi apa yang masih kurang dan dimana dapat menemukan informasi tersebut. Siswa dapat memberikan masukan yang berharga dalam usaha kelompok untuk memecahkan masalah. Beberapa siswa mungkin mempunyai informasi atau pengetahuan yang lebih dibanding yang lain dalam satu kelompok.

Beberapa siswa akan berusaha menjelaskan gagasannya, sementara yang lain dapat memberikan sudut pandang yang berbeda dengan bertanya atau menyimpulkan yang nantinya akan menuju pada kesimpulan kelompok.

Hasil yang penting dari strategi ini selain masalah dijadikan sebagai alat untuk menemukan apa yang dipelajari, juga mengembangkan kemampuan siswa menyadari bagaimana sesuatu dapat dipelajari.  Strategi ini akan sangat membantu siswa dalam belajar di sekolah dan membantu mereka kelak ketika berkarir setelah lulus dari sekolah.


"Case Study" Studi Kasus

Studi Kasus berbeda dengan Belajar Berbasis Masalah. Studi Kasus adalah strategi pembelajaran dengan memberikan deskripsi atau cerita yang lengkap dengan informasi dan pertanyaan-pertanyaan. Kasus yang diangkat biasanya adalah hal-hal yang berhubungan atau keterkaitan antara hal-hal yang dipelajari siswa disekolah dengan hal-hal yang terjadi dimasyarakat (King, 2006). Studi Kasus yang bagus seharusnya menarik, cocok dengan yang terjadi di masyarakat saat ini, membangkitkan motivasi siswa dan mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu.

Strategi ini memungkinkan siswa  untuk memahami aplikasi pengetahuan yang dimilikinya di masyarakat. Peran guru adalah membimbing siswa pada persoalan atau diskusi kasus dengan bertanya, demonstrasi, menunjukkan poin-poin penting atau isu yang sedang terjadi. Siswa diberikan materi dasar yang terkait untuk dibaca, untuk difikirkan dan didiskusikan. Setelah itu siswa dapat mengurai kasus  yang terjadi dan berusaha menentukan metode apa yang dapat digunakan untuk memecahkan kasus tersebut. Saat ada kesempatan, guru melemparkan beberapa pertanyaan yang relevan, yang dapat menstimulasi fikiran siswa dalam menemukan solusi dari kasus tersebut. Strategi ini adalah cara yang sangat berguna untuk melatih siswa belajar secara akademik dan melatih kemampuan berfikir kritis.

Di rumah ibuku,
Glantangan, 15 Desember 2010

Semoga menginspirasi.

Guru VS Siswa

Belajar adalah suatu kegiatan yang sangat komplek. Siswa ingin menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk karir mereka di masa depan. Guru ingin menyampaikan pengetahuannya dan meningkatkan kemampuan belajar siswanya. Pendekatan belajar yang paling efektif  adalah pendekatan bagaimana membawa isiswa lebih aktif, lebih bertanggung jawa, lebih mandiri untuk dapat menemukan cara belajarnya sendiri.

Di masyarakat barat, ada beberapa trend baru di dunia pendidikan, termasuk pergerakan dari model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) ke model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), yang terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih mendalam bagi siswa. Di Indonesia, model pembelajaran yang berpusat pada guru, masih mendominasi di sekolah-sekolah atau di kampus-kampus. Guru memberikan ceramah untuk mentransformasikan pengetahuannya sedangkan siswa menerima semua itu dengan pasif. Kemudian siswa diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian dengan akurat. Model pembelajaran seperti ini biasanya hanya berhasil ditingkat permukaan dan menimbulkan ketergantungan yang berlebihan kepada guru.

Pendekatan pembelajaran berbasis siswa ini telah banyak diterapkan di universitas-universitas besar, di sekolah-sekolah di seluruh dunia dan hasilnya terbukti efektif. Pendekatan belajar  yang berpusat pada siswa memungkingkan siswa dapat belajar lebih luas dan lebih mandiri. Dengan pendekatan ini peserta dididik dan dibimbing untuk dapat membaca lebih luas, berfikir lebih dalam, dapat menganalisa lebih menyeluruh, lebih termotivasi, dan lebih inovatif. 

‘Chalk and Talk’ – ‘ Kapur dan Bicara’  itulah gaya mengajar yang paling dominan di sekolah-sekolah kita. Gaya ini berpola pada pembelajaran berpusat pada guru yang menyampaikan pengetahuan melalui ceramah dan siswa menerima secara pasif. Siswa menjadi sangat tergantung kepada guru dan informasi yang diterima mahasiswa terbatas hanya yang disampaikan oleh guru. Guru bertindak sebagai pembatas ilmu pengetahuan dan guru kurang memberikan akses terhadap informasi lain. Siswa mendengarkan dalam waktu yang cukup lama dan menyerap informasi itu dengan sangat minim. Berdasarkan survei, cara tradisional ini, hanya menghasilkan daya serap 26% dari yang disampikan guru (King, 2006) dan membuat motivasi siswa menjadi rendah. 

‘Bagaimana membuat siswa saya dapat berfikir?’ itulah pertanyaan banyak guru dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia. Siswa merupakan kunci dari proses belajar mengajar. Guru seharusnya bertindak sebagai fasilitator untuk membantu siswa mengakses dan memproses informasi. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa tidak hanya berfokus pada apa yang diajarkan tetapi juga seberapa efektif proses belajar berlangsung. Jika motivasi siswa dapat terbangun, siswa dengan sendirinya akan lebih banyak mencurahkan waktu dan energi untuk belajar. Keuntungan yang dapat diperoleh dari model pendekatan ini antara lain:
  • Dapat mumbuhkembangkan keinginan siswa untuk terus belajar secara alamiah.
  • Dapat membantu siswa mencapai sesuatu yang mereka anggap penting dan berharga sehingga hal itu  dapat membangun keyakinan dan rasa percaya diri.
  • Menjadikan siswa sebagai manusia pembelajar (lifelong learners) dan
  • Dapat memperbaiki kesan guru yang berhasil menciptakan fasilitas pembelajaran yang efektif (keberhasilan pembelajaran harus dapat dipandang sebagai keberhasilan bersama di dalam kelas, bukan semata-mata karena guru)
Semoga menginspirasi.