8 April 2013

Ayo Bermain

Play-Based Kurikulum Untuk Pengalaman Belajar Anak PAUD dan TK
Riyadi Ariyanto, BERBAGIHappy@FREE Workshop: Happy Learning
TK. Dharma Wanita, Ajung-Jember, Sabtu 19 Mei 2012


Bermain adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak. Bermain, baik sendiri atau bersama dengan teman lainnya adalah  sebuah kodrat dalam tumbuh kembang setiap anak. Secara intuitif, guru di PAUD dan TK mengetahui bahwa bermain berperan sangat positif terhadap kesehatan fisik anak, kecerdasan sosial-emosional dan kreatifitas. Pada saat anak-anak bermain, guru dapat  mengetahui secara langsung melalui obeservasi/pengamatan perkembangan anak-anak setiap hari.


Guru melakukan observasi saat anak bermain di dalam ruang atau di luar – berlari, melompat, mendaki, menendang bola, menari dll. Guru mencatat pertumbuhan mawas dan percaya diri anak, keseimbangan badannya,  juga perkembangan koordinasi antara gerakan tangan dan mata. Saat mereka bermain “Susun Balok” atau permainan-permainan manipulasi lainnya, guru bisa mengamati pertumbuhan otot kecil mereka yang luar biasa.

Guru mengamati  kemampuan per seorang anak saat terlibat dengan berbagai macam permainan, dan dengan cepat guru dapat mengetahui bahwa semakin hari permainan mereka semakin komplek dan kreatif. Guru dapat melakukan assessment/penilaian perkembangan masing-masing anak tentang bagaimana anak menentukan permainanannya, mengambil keputusan tentang bahan, jumlah, jenis dll, juga bagaimana ide dan pendapat anak mengenai  permainan yang diinginkan, serta melihat perkembangan anak dalam mengikuti aturan permainan. Guru juga dapat mengambil bagian sebagai anggota dalam permainan anak, membagikan bahan-bahan/ alat-alat, atau bersama dengan anak-anak memecahkan setiap permasalahan yang muncul selama permainan berlangsung.

Dan akhirnya, setiap hari guru bisa mengobservasi coretan dan gambar anak, bangunan balok atau permainan maniplulasi anak yang lain, dan menggunakan hasil permainan kreatif anak tersebut unyuk kepentingan banyak hal. Seringkali, baik sedikit maupun tidak ada campur tangan orang dewasa sama sekali, permainan  anak itu sangat mendukung anak–anak untuk dapat mengekpresikan diri secara unik dan luar biasa kreatif, megekplorasi bahan-bahan baru dan menggunakan bahan-bahan permainan yang sudah biasa dengan cara baru dan lebih komplek.

Bagaimana bermain dapat mendukung perkembangan yang luar biasa bagi anak? Apakah permainan juga bisa menstimulai perkembangan kognitif  anak, mendukung kemampuannya pada science, matematika, bahasa dan literasi anak?

Permainan dan Pertumbuhan Kognitif Anak
Dengan melihat secara dekat apa sebenarnya yang terjadi dalam permainan anak, kita akan mengetahui bahwa permainan-permainan itu tidak hanya menstimulasi fisik, sosial-emosional dan kreatifitasnya, tetapi permainan-permainan itu adalah alat paling efektif bagi anak untuk mengekplorasi dunia, mengetahui apa yang ada di dunia nyata dan memahami bagaimana dunia ini bekerja. Coba lihat, sekelompok anak yang bermain ‘Susun Balok’, permainan menyusun/mendirikan bangunan/blok dengan balok-balok kayu. Mula-mula, mereka mendekatkan berbagai macam ukuran balok, bentuk, terus disusunnya saling bersilang keatas kesamping diatas karpet. Mereka menempatkan balok yang lebih besar diatas yang kecil, meletakkan balok persegi diatas balok segitiga, menempatkan balok secara sembarangan atau untung-untungan sehingga bagunan “Tower’ nya terlalu mudah roboh. Salah seorang anak diantara mereka punya ide! Mungkin, kalau kita membangunnya dengan meniru bentuk aslinya, “Tower” kita akan berdiri lebih baik! Dengan cepat mereka setuju untuk mencobanya, memulai membangunnya kembali. Ah! Tidak beruntung! Bangunannya roboh disaat-saat terakhir. Seorang anak diantara mereka juga, mengatakan bahwa itu gara-gara permukaan dasarnya yang “bergoyang”, karpetnya mudah bergerak. Mereka pindah tempat, mencari dasar permukaan yang lebih keras, mereka membangunnya kembali di atas lantai. Sekarang bangunan towernya tegak berdiri. Lebih tinggi sedikit dari sebelumnya. Setelah mereka menyadari bahwa balok kecil dapat berada diatas yang lebih besar, mereka mulai lebih berhati-hati memilih ukuran balok-balok itu, menempatkan balok-balok yang lebih besar pada bagian paling bawah. Kemudian, bangunan mereka, lebih tingi dan lebih tinggi. Mereka sangat senang dengan keberhasilannya, anak-anak itu memanggil gurunya untuk menyaksikan hasil karya mereka.

Bagaimana permainan dapat bertemu dengan standar kompetensi dan tujuan pembelajaran?
Melalui permainan, anak-anak secara aktif terlibat dalam permasalahan yang muncul, mengekplorasi solusi, dan membangun pemahaman dunia nyata tentang konsep dan fungsi. Dengan membandingkan, menggabungkan informasi yang didapat dari pengalaman barunya dengan apa yang telah diketahui sebelumnya, mereka secara aktif mengkonstruksi pengetahuan tentang dunia. Bagaimana dunia ini bisa berjalan.

Pada saat yang sama, kelompok anak-anak yang membangun ‘Tower’ tersebut, telah menginisiasi kerikulum pada tujuan pembelajaran science untuk lingkup pengetahuan, keterampilan dan metode dalam science. Melalui bangunan sederhana itu, anak-anak telah mengekplorasi macam-macam benda (karpet, lantai keras, perbedaan ukuran dan bentuk-bentuk balok). Mereka telah melakukan investigasi hukum sebab akibat dan menarik kesimpulan dari apa yang terjadi. Mereka mengalami sebuah petualangan pengetahuan dan menyadari suatu formula: bangunan dapat berdiri lebih mudah diatas permukaan yang keras; balok besar lebih baik ditempatkan dibawah. Mereka telah merangkum teori mereka sendiri tentang bagaimana cara mendirikan bangunan tinggi. Ketika mereka meneruskan atau melanjutkan permainan susun balok ini – walapun tanpa intervensi orang dewasa- anak-anak akan menemukan sendiri informasi atau pegetahuan-pengetahuan baru tentag jenis-jenis balok yang lain, memproduksi gagasan-gagasan baru juga pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang bisa dan apa yang tidak bisa, apa yang cocok dan tidak cocok, tepat dan tidak tepat, dan secara  bertahap mereka memperbaiki sendiri teori/konsep yang telah mereka miliki tentang bangunan tinggi.

Bagaimana guru dapat mengambil manfaat dari permainan itu untuk mendukung perkembangan kognitif anak? Apa yang bisa dikembangkan setelah anak berhasil mendirikan “blok bangunannya”?  Bagaimana guru dapat membawa pengalaman bermain sebelumnya menuju pengalaman science yang lebih luas dan lebih dalam? membawanya ke dalam area  matematika, bahasa/komunikasi dan literasi, dan mempertemukannya dengan standar kompetensi kurikulum?

Membangun Kurikulum Berbasis Permainan Anak. 
Guru dapat mengambil manfaat dari tingginya minat dan keterlibatan aktif anak dalam permainan balok dengan merencanakan sebuah kurikulum seputar  topik ‘struktur bangunan’ dan menghubungkannya dengan pencapaian kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran menjadi sebuah unit pengalaman belajar berbasis permainan yang sangat terencana. Untuk bisa mengerjakan itu, guru:
menyiapkan lingkungan yang dapat menstimulasi permainan; 
sediakan gambar, alat tulis untuk mendokumentasikan permainan anak, bahan-bahan/alat-alat permainannya.
ciptakan waktu dalam kegiatan harian untuk melakukan diskusi dan merefleksi permainan yang secara kelompok maupun invidual. 
gunakan strategi mengajar yang membantu anak dapat merefleksi permainannya, dan memancing daya berfikirnya untuk menghubungkan dengan area kompetensi, science, matematika, sosial-emosional, bahasa, kesehatan, dll).
Melalui perencanaan pengalaman belajar berbasis permainan seperti ini, guru telah memberikan pengalaman belajar standar matematika (angka dan operasional bilangan, geometri, ruang, rumus dan pengukuran) dalam sebuah pembelajaran yang kontektual dan bermakna. Guru juga bisa mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan literasi dalam permainan balok ini, dengan membantu anak berdiskusi tentang permainan/bangunan baloknya, juga dengan menyediakan buku fiksi atau non fiksi dengan topik ‘bagunan”.

Menyiapkan lingkungan yang dapat menstimulasi permainan.
Guru menyiapkan lingkungan yang dapat menstimulasi permainan ‘ balok bangunan’ ini dengan meyediakan dan memasang macam-macam gambar bangunan yang berbeda-beda baik yang sudah biasa dilihat anak maupun yang tidak biasa dilihat anak (termasuk “tower”/menara); pasang gambar anak dan foto guru di masing-masing  bangunan karya mereka; dan sediakan beberapa buku fiksi dan non fiksi dengan topik bangunan. Hal ini akan sangat mendorong anak mencapai puncak minatnya dalam membangun bangunannya dan akan lebih memprovokasi diskusi anak tentang bentuk (ukuran, model, karakteristik, bahan bangunan) dan fungsi dari bangunan. Dengan menciptakan lingkungan yang mengundang anak untuk segera mewujudkan bangunannya, guru juga akan mendapatkan anak yang secara individu betul-betul tertarik untuk terlibat dalam permainan ini dalam konteks topik yang akan dipilih oleh kelompoknya.

Guru memperkenalkan, macam-macam bahan balok dalam permainan itu termasuk ukuran, bentuk, berat, tekstur dari balok. Guru dengan hati-hati memasukkan pengetahuan tentang jenis dan macam-macam bahan permainan balok, balok kayu dengan bentuk dan ukuran, balok dari bahan gabus, balok dari hardboard, dll  Semakin beragam bahan balok yang tersedia, akan semakin memperluas/memperkaya pengalaman anak dalam membangun bloknya, juga akan semakin banyak informasi/pengetahuan anak yang dapat diperoleh untuk membangun teori anak tentang bangunan.

Guru menambahkan aksesoris (bahan tambahan) yang  mungkin bisa gunakan dengan blok yang akan dibangun anak, seperti orang-orangan, binatang, lampu lalu lintas, pakaian dan topi. Bahan-bahan tambahan itu digunakan untuk menstimulasi anak membangun blok yang lebih komplek, mendorong pengalaman kreatifitas, emosi dan kepekaan sosialnya serta menambah suasana sosio-drama dalam  kegiatan membangun bloknya. 

Mendokumentasi Pengalaman Bermain
Menggambar dan menulis di lakukan untuk memberikan dukungan kepada anak untuk mengobservasi/mengamati bentuk fisik blok mereka. Guru juga dapat memberikan bermacam media agar anak dapat merepresentasikan bloknya. Misalnya, bila fokus permainan blok ini adalah bangunan “Tower”, guru dapat memberikan selembar kertas panjang sehingga memudahkan anak untuk menggambar bangunan tinggi. Guru dapat menempelkannya di tembok (dinding kelas) agar anak mudah menggunakannya.

Memenempatkan kertas dan spidol disamping bangunan blok, akan sangat baik dan mengundang siswa berimajinas tentang rencana bangunan blok yang dibangun bila dibangun sampai selesai.
Mendokumentasikan dengan kamera tidak terlalu berguna, namun, foto akan sangat berguna saat diskusi kelompok untuk menstimulasi kemampuan bahasa anak dan memperkenalkan kosa kata yang berhubungan dengan bangunan, seperti atas, bawah, pintu, dasar/pondasi, atap, tangga dll., sambil lalu guru mendokumentasikan kosa kata tersebut secara tertulis. Bila fokus bangunaan adalah “Towers”, foto dapat mendoumentasikan secara permanen, misalkan tinggi “ tower”.  Kegiatan ini juga diperlukan sebagai rekaman anak, agar dikemudian hari bila anak terlibat dalam permainan blok lagi, dapat dijadikan sebagai pembanding bagi anak itu sendiri atau kelompok lain.

Berikan tantangan dengan menambahi kelengkapan-kelenkapan kecil lainnya seperti tutup botol, buah, bunga, tempat sampah dll. Dengan menggunakan bahan-bahan sekunder lain yang bermacam-macam, akan menghindarkan anak atau kelompok membangun blok yang sama di setiap kesempatan.  Bahan-bahan itu akan  menghasilkan informasi baru dan tentunya ide baru tentang bagaimana menangani bahan-bahan itu.

Waktu untuk diskusi dan refleksi dari pengalaman bermain.
 Seringkali ada waktu singkat anak ada disekolah karena suatu jadwal  anak akan dipulangkan lebih cepat, gunakan waktu-waktu seperti ini untuk melakukan diskusi dan refleksi terhadap permainan-permainan yang pernah di ikutinya. Dalam play-based kurikulum, waktu seperti ini dibutuhkan bagi satu anak atau kelompok untuk bertukar pengalaman kesuksesan atau tantangan yang di hadapinya saat bermain. Ini juga waktu yang baik bagi guru membagikan foto, gambar, atau hasil karya kongkrit anak agar pengalaman itu dapat diungkaplan secara verbal.

Tiga Lelaki Empat Dengan Aku

Aku ingin menulis catatan ini untuk kalian. Syahdan lelaki, Luftan lelaki dan Nahnu lelaki. Kelak, jika umur kalian telah diijinkan menggunakan internet, mungkin kalian bisa membacanya. Cerita satu lelaki lagi, aku, yang kalian kenal sebagai ayah, bapak atau suami dari istri, ibu kalian.

Aku ingin bercerita kepada kalian bukan tentang orangorang yang tibatiba bahagia, tibatiba kaya, tibatiba mampu merubah kesusahan menjadi kesuksesan, ketiadaan menjadi keberlebihan. Aku bukan ayah kaya seperti kalian semua tau. Bukan ayah yang baik seperti kalian mungkin dengar. Tetapi ceritaku hanyalah sesuatu yang mungkin kau bisa belajar dari situ, sebagai bekal kalian menghadapi persoalan yang tentunya lebih rumit daripada dulu aku seusia kalian. Kalian hidup dalam rimba raya materialistik yang jika kalian tak siap, kalian hanyalah sampah dari hidup ini, kesana kemari terbawa iklan televisi, kehilangan jatidiri kalian sesungguhnya diciptakan, sebagai manusia.

Tiga lelaki! aku ingin memulainya dengan ini:

Tantangan pertama justru bukan darimana, tetapi dari ibuku sendiri. Tak seperti kebanyakan cerita-cerita di TV, bahwa seorang anak miskin yang punya cita-cita mendapat dorongan orangtua yang rela mengorbankan apa saja demi anakanak mereka tetap bisa sekolah. Dan yang terjadi padaku adalah seorang anak yang mengantungkan citacitanya setinggi langit, tetapi ibuku melarang aku ke sekolah. Bukan karena ibuku tak sayang, tetapi tak tau apa yang harus dikorbankan, apa yang bisa di jual dirumah yang bukan milik sendiri, dan kosong.

Memperoleh nilai terbaik di SD, bukan jaminan bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Ibu melarangku saat itu karena yang ibu tau, sekolah adalah mahal dan mewah, milik hanya sebagian orangorang atasan perusahaan perkebunan (PTP). Tentu itu bukan aturan tertulis, tetapi isu itu betulbetul ada, kuat bahkan melekat di hati ibu.

Di hari pendaftaran SMP, aku "berseliweran" di area pendaftaran sekolah. Aku hanya bisa berharap seseorang membawa uang lebih dan memanggilku untuk ikut mendaftar. Tak ada. Tak satupun. Semua orang tua dan calon siswa membawa uang pas - mungkin. Di hari kedua pendaftaran, aku tak ingat lagi, siapa yang mendaftarkan aku di situ, mungkin Retno, Deasy, atau Arman. Mereka bertiga teman SDku yang juga mendaftar ke SMP itu. Tapi yang jelas, mereka bertiga adalah anakanak pejabat perkebunan, anakanak yang kenal ibuku karena ibu bekerja di rumah-rumah mereka. Mencuci bajunya, menyiapkan sarapannya, menggendong adik-adik mereka yang masih balita, mengkilapkan lantai rumahnya dan membawakan belanjaan mereka. Ibu bekerja disitu. Ibuku babu. Itu tahun 1985. Tahun pertama kali digunakan Danem (Daftar Nilai Evaluasi Belajar Tahap Akhir Murni) sebagai seleksi masuk SMP.

“Sekolah sambil mencari biayanya.” Itulah yang ada di kepalaku, setelah melihat di papan pengumuman seleksi masuk SMP, aku diterima. Bagaimana caranya? Bekerja apa? Bisa apa? Sekecil aku? Aku juga menjawab tak tau. Pokoknya diterima dulu. Soal biaya aku akan berbicara kepada pihak sekolah, semacam "mohon ampun" untuk tidak ditarik dulu, sampai ada pekerjaan sepulang sekolah.

Dugaanku meleset. Di hari pertama memang tak ada tarikan uang, tetapi seragam sekolah dan sepatu hitam polos harus ada. Dan ternyata wajib dengan sendirinya walau tak ada tulisan seperti itu di sekolah. Bila tidak, maka aku akan mirip 'mahluk aneh' di tengah-tengah ratusan anak berpakaian seragam biru putih sepatuh hitam yang masih berbau khas toko. Hari pertama sekolah terpaksa tak bisa kuikuti. Hari itu aku gunakan berkeliling ke teman-teman mencari pinjaman seragam. Hari kedua aku sudah berhasil ada di sekolah dengan sesuatu yang semuanya kebesaran. Ya, Semuanya kebesaran, baju, celana, sepatu, kaos kaki dan tas. Sedikit tak sedap di pandang guru dan teman sekolah, jadi tertawaan setidaknya teman bangku sebelah.

Aku ingin mengecilkannya semua itu, tetapi bukan kepada penjahit karena semua ini jelas-jelas bukan milikku. Aku mencari dan berusaha sekuat tenaga menemukan apa yang paling besar, terbesar didiriku agar semuanya nampak kecil. Jika ada yang paling besar, maka yang lain akan nampak kecil. Dibangku kayu itu, di ruang kelas itu, aku melamun sambil mendengarkan Pak Mistono, seorang guru dengan cukuran kumis jenggot tak rapi, memberi ceramah P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), kutemukan sesuatu yang paling besar kubawa, yang terbesar bersama diriku di sekolah itu, dan itu adalah niat dan semangatku menyelesaikan sekolah sampai kepada tingkat tertinggi di bumi ini.

Entah kenapa, tiba-tiba semuanya nampak kecil. Seragam dan uang sekolah adalah persoalan kecil. Kekecilan bahkan. Terlalu kecil dibanding dengan semangat ini, dengan niat ini.

Tiga lelaki! aku sambung kapankapan lagi.


Jember, 18 Juni 2012
Hari pendaftaran sekolah, hari tiga lelaki diidaftarkan sekolah. Syahdan SMP. Luftan SD. Nahnu KB.

Semoga menginspirasi.

Adalah Umar

  1. Adalah Umar, yang menetapkan peristiwa Hijrah, sebagai tahun 0 Islam. Ini pandangan luarbiasa dan cemerlang. Beliau tdk menggunakan hari kelahiran Nabi atau wahyu pertama, tetapi lebih memilih menjadikan momentum Hijrah sebagai titik awal sebuah pencapaian visi agama ini.
  2. Yastrib -kelak berganti nama Madinah yg berarti "kota sang nabi"- berbeda dgn Mekkah. Madinah yg terletak sekitar 250 km ke arah utara Mekkah adalah daerah pertanian, sedangkan Mekkah adalah kota niaga, kota bisnis yang luas. Dan dagangan mereka yang terbesar dan bergensi waktu itu adalah Agama, setidaknya sampai sumber minyak bumi di temukan pertama kali.
  3. Mekkah sebagai kota industri pariwasata (bisnis kunjungan wisata agama), merasa terancam dengan apa yang di kabarkan Muhammad. Bisnis penginapan, bar, katering, toko-toko, prostitusi, perjudian, tempat mabuk dan bisnis2 yang sejenis adalah sumber yang membawa kekayaan bagi orang2 Mekkah. Dan hukumnya selalu seperti ini: Siapa saja yang mengganggu kenikmatan ekonomi atau sumber kekayaan harus di musnahkan.
  4. Ingat! bahwa orang-orang yang Yahudi juga menghormati Baitullah sebagai tempat suci Ibrahim. Mereka adalah keturunan Ishak, anak Ibrahim dari istri petamanya, Sarah.
  5. Kemudian orang-orang Yahudi memutuskan untuk tidak kembali melakukan perjalanan ke Mekkah, disebabkan orang-orang Mekkah (keturunan Ismail, anak ibrahim dari istri keduanya, Hajar) meninggalkan apa yang diajarkan oleh Ibrahim tentang monotheis, percaya kepada satu Tuhan.Saat itu, Mekkah di banjiri oleh ratusan kuil dan dewa-dewa kafir mereka, Hubal, Manat, Allat, Al-Uza dan Fals. Sebenarnya, kuil-kuil, patung2 itu bukan orang Mekkah yang membuat, tetapi adalah para peziarah (tentunya bukan Yahudi) yang meletakkannya di sekitar Baitullah. Orang Mekkah sendiri mengganggap, 'ah biarkan saja, yang penting bisnis ini semakin menguntungkan.' Semakin banyak orang yang yang berwisata ke Mekkah, semakin meningkat pula sumber ekonomi yang dapat di nikmati oleh bos-bos Mekkah.
  6. Pada suatu malam di Bulan September tahun 622, pembunuhan Muhammad direncanakan. Nabi telah mendengar rencana itu. Pada malam itu Beliau dan Abu Bakar menyelinap pergi ke gurun pasir, dan Ali yang berbaring di tempat tidur Nabi untuk mengecoh lawan. Calon pembunuh itu melepaskan Ali. Rencana pembunuhan itu gagal total. Kemudian, Mereka mengirim regu pencari dan munculah legenda tentang laba-laba yang melindungi Nabi dan Abu Bakar dalam persembunyian di sebuah gua di sekitar Mekkah. Kenapa sih harus membunuh Muhammad? apa yang terancam, padahal Mekkah sudah begitu kosmopolitan? Apalagi alasannya, kalau bukan masalah ekonomi. Orang-orang Mekkah menikmati bisnis pariwisata religius. Jika gagasan tentang "satu Tuhan" ini menyebar luas, siapa kemudian yang akan mengunjungi kuil-kuil? siapa yang akan mengunjungi Dewa Hubal, Mannat, Allat, Al-Uza, dan Fals?  Bagaimana bisnis penginapan mereka, katering, bar, perjudian, prostitusi, dan usaha2 sejenis? Ironisnya, sampai dengan hari ini, justru jutaan orang dari seluruh penjuru bumi mengunjungi Mekkah setiap tahunnya, dan menjadikannya itu sebagai pertemuan tahunan terbesar di muka bumi ini.

Beberapa Catatan Sejarah Islam

  1. Sarah berusia 76 tahun saat mngizinkan suaminya Ibrahim, 85 tahun, menikahi budaknya asal Mesir, Hajar. Perasaan cemburunya menjadikan Hajar sebagai sasaran segala kemarahan Sarah. Dan Hajar hanya bisa mengadukan semua itu kepada Tuhannya, hingga Tuhan mengutus seorang malaikat untuk mengabarkan bahwa Tuhan akan menjadikan keturunan mereka menjadi tak terhitung jumlahnya. Malaikat itu juga berkata kepada Hajar, " Berbahagialah, kamu akan segera dikaruniai seorang anak, namailah Ismail, karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu." Ketika Bayi itu Lahir, Ibrahim memberinya nama " Ismail" yang berarti " Tuhan telah mendengar".
  2. Di kisahkan juga di Kitab Kejadian (Genesis) bahwa Ibrahim tidak memiliki anak dan tak ada harapan untuk bisa memilikinya. Pada suatu malam, Tuhan menyuruhnya keluar dari tenda dan Tuhan menyuruhnya untuk menghitung bintang-bintang di langit jika ia sanggup. "Sebanyak itulah keturunanmu nanti."
  3. Lima belas tahun kemudian, saat Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 90 tahun, firman Tuhan datang lagi kepada Ibrahim bahwa Sarah akan di karunia keturunan dan mesti diberi nama Ishaq. Dari sinilah, banyak cerita dunia di mulai. Ismail-Ishaq. Dua aliran spiritual besar, dua agma, dua dunia Tuhan, dua lingkaran, dan tentunya dua pusat.
  4. Karena khawatir Allah mengurangi kasih sayang-Nya kepada Ismail setelah kelahiran Ishaq, Ibrahim berdoa seperti ini: " Semoga Ismail hidup dalam Hidayahmu-Mu, Ya Allah!" Allah menjawab, " Aku mendengar doa'mu tentang Ismail. Tenanglah! Aku akan merahmatinya, menjadikannya ia pemimpin suatu bangsa besar. Tetapi Kehendak-Ku tentang Ishaq telah Kutetapkan, Sarah akan melahirkan tahun depan.
  5. Dan benar, lahirlah Ishaq. Dan sejak inilah keturanan Ibrahim tidak satu bangsa, tetapi dua bangsa besar, dua adikuasa, dua spiritual besar yang tidak mengalir bersama tetapi menempuh jalannya masing-masing.
  6. Api cemburu itu mendapatkan tempatnya. Tepat, ketika Ishaq disapih (Sarah sendiri yang menyusuinya), Dimintanya Ibrahim untuk mengusir Hajar dan Ismail dari rumahnya. Dan mereka sungguh pergi dari tempat tinggal itu, ke suatu tempat, suatu lembah tandus di Arabia, sekitar 40 hari perjalanan onta di sebelah selatan Kanaan. Lembah itu bernama Bakkah.
  7. Hajar sangat khawatir dengan keselamatan Ismail. Sang ibu mencari pertologan tetapi tak seorangpun disana. Bolak balik Hajar melintasi jalan yang sama sampai tujuh kali. Pada saat ia kelelahan, malaikat menemuinya. Kemudian, gundukan pasir tersentuh tumit Ismail memancarkan sumber mata air menakjubkan: Zamzam.
  8. Dalam Kitab Kejadian, di kisahkan seperti ini: "Dan Allah mendengar suara bayi itu dan mengutus malaikat surga menemui Hajar dan berkata: 'Apa yang membuatmu susah, Hajar? Jangan takut! Tuhan telah mendengar suara bayimu di tempat ia berbaring. Bangkit dan angkatlah bayimu dan gendonglah dengan tanganmu, Dia akan menjadikannya pemimpin bangsa besar.' Dan Tuhan membuka matanya, dan Hajar menyaksikan mata air yang menakjubkan."
  9. Kitab Kejadian di wahyukan kepada Ishaq dan kelak keturunannya. Sarah melahirkan Ishaq, Hajar melahirkan Ismail. Kitab itu menuturkan tentang Ismail seperti ini: "Dan Allah bersama sang bayi; dan ia tumbuh dan tinggal di dalam hutan belantara dan menjadi seorang pemburu (pemanah)."
  10. Diriwayatkan bahwa Ibrahim hidup 75 tahun lagi semenjak waktu tiba Hajar dan Ismail di Bakkah. Ibrahim diberi petunjuk oleh Allah untuk menemukan Hajar dan Ismail dan membangun Rumah Suci disekitar Zamzam. Bangunan itu disebut Ka'bah, "kubus", yang menunjukkan empat arah mata angin.
  11. Sebenarnya benda paling suci disitu adalah sebongkah batu yang diriwayatkan dibawa Jibril kepada Ibrahim dari suatu tempat dekat Abu Qubassy. Sekarang, batu itu terletak di salah satu sudut Ka'bah.
  12. Ketika Hajar bertemu kembali dengan Ibrahim, diceritakanlah penderitaannya, kisah-kisahnya saat mencari pertolongan, dan kemudian Ibrahim menjadikannya sebagai ritus ibadah haji, belari-lari kecil dari Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
  13. Tak lama setelah pertemuannya kembali dengan Hajar dan Ismail dan membangun Rumah Suci, Ibrahim mendambahkan padang pasir yang subur, yang ditumbuhi gandum dan jagung. Di Kanaan, Ibrahim berdo'a seperti ini, "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian kerurunanku di lembah yang tidak mempunyai tetumbuhan, di dekat Rumah-mu (Bait Allah) yang di hormati. Ya Tuhan, hal itu agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia untuk untuk cenderung kepada mereka dan limpahkan rezeki berupa buah buahan, mudah mudahan mereka bersyukur."
  14.  Doa Ibrahim di kabulkan. Kunjungan Jamaah Haji ke Baitullah terus meningkat dari seluruh Jazirah Arab dan sekitarnya, menjadikan perjalanan haji sebagai sumber ekonomi penting disana, waktu itu bahkan sampai sekarang. Bukan hanya lagi buah buahan seperti doa Ibrahim, tetapi juga industri hotel, transportasi, restoran, industri perjalanan, pemandu wisata dll.
  15. Ketika Ka'bah menjadi ikon ekonomi melalui karunia yang diberikan oleh para jamah haji, cerita selanjutnya pasti seputar bagaimana tempat ini bisa dijaga, dirawat, dikabarkan, dipromosikan dan tentunya dikuasai, menguasai. Pada saat itu, keturunan Ishaq (yahudi) juga melakukan perjalanan haji ke Baitullah, mereka menghormati Baitullah sebagai tempat suci, tempat beribadah kepada Allah, yang didirikan oleh Ibrahim.
  16. Seringkali bahasa reklame melampaui batas rasional berfikir. Janji janji pahala yang berlipat lipat yang dikabarkan menjadikan antusias para jamaah haji yang membawa pulang batu batu di sekitar Baitullah untuk dilakukan ritual penghormatan memuliaka n di tempat asal para jamaah.
  17.  Baitullah juga bertetangga dengan tempat kaum pagan penyembah berhala. Kemudian para jamaah haji itu membawa berhala ke Makkah dari kediaman mereka dan ditempatkan di sekitar Ka'bah. Dan inilah yang menyebabkan Keturunan Ishaq (Yahudi) berhenti mengunjungi Baitullah, Rumah Suci yang dibangun Ibrahim. (sampai nomor ini Islam belum lahir)
  18. Kaum penyembah berhala mengklaim bahwa berhala adalah media perantara manusia dengan Tuhan. Dengan demikian, Tuhan menjadi jauh dan tidak langsung, mereka lupa darimana dunia ini dan akhirnya mereka tidak meyakini kehidupan setelah kematian.
  19. Pertama kali, adalah Orang-orang Jurhum yang datang dari Yaman, mengangkat diri mereka sendiri sebagai penguasa Makkah. Ketururunan Ibrahim setuju saja karena istri kedua Ismail berasal dari Jurhum. Namun, akhirnya mereka melakukan kesewenang-wenangan hingga mereka diusir dari Makkah.
  20. Posisi kekuasaan kemudian diambil alih oleh Orang2 Khuza'ah, keturunan Ismail juga, yang berimigrasi ke Yaman. Warisan leluhur mereka, sumur Zamzam telah dilupakan bahkan sudah tak tau lagi dimana ia. Sumur-sumur baru di gali, air keluar dimana-mana. Orang2 ini sudah tak percaya lagi tentang kisah Hajar, Ismail, dan mata air Zamzam.
  21. Tak banyak diceritakan bagaimana pertemuan dua bersaudara Ismail dan Ishaq, pasca Hajar dan Ismail meninggalkan rumahnya dan membangun Makkah, baik di AlQuran (kelak) maupun di Kitab Kejadian. Hanya disebutkan disana (Kitab Kejadian) bahwa mereka berdua yang memakamkan ayahnya, Ibrahim di Hebron.
  22. Penguasaan atas Baitullah oleh kaum Khuza'ah, akhirnya juga melakukan tindakan yang sama seperti penguasa sebelumnya: Kesewenang-wenagan. Puncaknya, dalam perjalanan pulang dari Syiria, pimpinan Kaum itu meminta berhala besar, Hubal, milik suku Moabit untuk ditempatkan, dipajang di ka'bah sebagai pemimpin dari berhala-berhala lainnya yang sudah ada di Mekkah.
  23. Penguasaan atas Baitullah berurutan seperti ini: Dari Kaum Jumhur ke Kaum Khuza'ah kemudian ke Kaum Qurais. Semua kaum ini adalah keturunan Ismail. Dari kaum Qurais ini, kelak akan dilahirkan seorang yang tak diketahui nama kecilnya, membawa wahyu, mengabarkan tentang cinta, membumikan agama Ibrahim leluhurnya, pemberani sekaligus lembut, pengasih sekaligus tegas: Muhammad.