27 Januari 2011

Yang Terlupa (1)

Seringkali karena alasan target kurikulum, atau merasa hal ini bukan bagian dari kompetensi yang di ajarkan, kita lupa bahwa salah satu peran guru adalah Sang Motivator. Catatan saya berikut ini, semoga menginspirasi para guru, para siswa juga para orang tua dalam menemani putra-putrinya belajar.

Bagian 1: kepercayaan diri dari siswa dalam proses belajarnya.

PDS (Percaya Diri Siswa) adalah kepercayaan atau keyakinan siswa pada kemampuannya untuk dapat memahami atau mengerti pelajaran yang akan diberikan guru, kepercayaan untuk dapat mengerjakan tugas-tugas dari  guru, kebersediaan menghadapi tantangan, juga kebersediaan siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Siswa yang mempunyai kepercayaan diri positif, cenderung akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Mereka akan lebih antusias, berusaha keras, optimis, dan menikmati kehidupan sekolahnya.

Oleh karena itu PDS merupakan hal mendasar yang dapat menentukan keberhasilan belajarnya. Berikut ini adalah  tiga tip meningkatkan PDS. 

1. Jangan biarkan siswa terperangkap dalam pikiran negatif pada dirinya sendiri.
Seringkali, ketidakpercayaan siswa terhadap kemampuan dirinya dikarenakan mereka terjebak atau jatuh ke dalam “perangkap” pikiran-pikiran negatif tentang diri mereka sendiri.

Perangkap itu antara lain:
  • Selalu melihat sisi negatif dari pada sisi positif dari diri mereka sendiri. 
Siswa yang tidak mampu melihat sisi positifnya, akan terus memunculkan pikiran-pikiran negatif dalam menghadapi proses belajarnya. Contoh: Ketika mereka mendapatkan nilai bagus, mereka berpikir, “ Ah, ini cuma guruku saja yang kasihan padaku”.  “Ah, ini mungkin karena di rata-rata saja oleh guru.”  Jika tidak dihentikan, perasaan-perasaan negatif ini akan terus berkembang, sampai anak ini tidak akan pernah mampu lagi mengenali potensi dalam hidupnya.
  • Itu tidak mungkin, mustahil.
Seringkali saya temukan, bahwa lebih dari separuh siswa di dalam kelas adalah siswa-siswa tanpa kepercayaan diri dapat mencapai seperti yang didapat oleh oleh siswa berlabel “pandai”. Sebagaian besar mereka menganggap bahwa pencapaian sebagian siswa yang lain adalah seperti gunung yang tak mungkin terlewati. Cara pandang seperti ini yang terus menerus, akan membuat siswa melabel dirinya bahwa dia adalah siswa yang tidak pandai, atau dengan malu-malu siswa mengatakan, “ ya, kalo saya gak bisa bu, seperti Evi.”, “saya rata-rata saja, pak. Nggak goblok, ya nggak pinter.”   

2. Dorong kepercayaan diri siswa dengan membagi tugas-tugas sekolah kedalam beberapa bagian kompetensi.

Hal ini saya anggap adalah bagian penting dari cara-cara meningkatkan motivasi belajar di dalam kelas. Siapapun siswa itu, masing-masing siswa harus pernah melewati pengalaman berhasil. Pengalaman berhasil inilah yang akan mendorong siswa mencapai keberhasilan berikutnya. Pengalaman ini akan menumbuhkembangkan kepercayaan terhadap dirinya. Pengalamam berhasil ini akan memberikan rasa antusias untuk menghadapi pengalaman belajar selanjutnya. Apa yang bisa dilakukan guru?
  • Membagi satu kompetensi kedalam beberapa sub kompetensi. Jika dirasa perlu, bagilah sub kompetensi menjadi beberapa sub-sub kompetensi.
  • Hargailah setiap potongan-potongan keberhasilan itu sebagai keberhasilan siswa. Pujilah dengan tidak berlebihan, ucapkan kata salut agar siswa terdorong mendapat tugas yang lebih menatang.
3. Perluas wawasan siswa dalam memandang keberhasilan.

Hal  lain yang sering saya lihat di dalam kelas adalah cara pandang siswa terhadap apa itu keberhasilan, apa itu kesuksesan belajar. Tidak jarang saya mendapat jawaban bahwa mereka tekurung dalam terminologi, keberhasilan belajar itu adalah menjadi yang ‘ the best’ di dalam kelas, peringkat satu di dalam kelas ‘best of the best’, meninggalkan atau mengalahkan siswa lainnya.

Guru harus memberikan pemahaman kepada mereka, bahwa keberhasilan belajar bukan sekedar seperti itu tetapi jauh.. jauh.. jauh.. jauh... lebih luas dari itu. Apa itu? Tunjukkan kepada siswa bahwa keberhasilan itu juga termasuk kemampuan siswa berproses, meningkatnya skill  (keterampilan), meningkatnya kemampuan diri dari sebelumnya, keberhasilan mengetahui atau memahami sesuatu yang baru, terampil dalam dalam memecahkan masalah, kerberhasilan bersosialisasi dalam kelompok , keberhasilan menemukan cara belajarnya yang efektif. Cekatan, cepat tanggap, rasa peduli, perhatian juga adalah keberhasilan.

Dan hal penting, ingin saya tulis dengan huruf kapital  dan tebal: MOTIVASI DAPAT DI PELAJARI DAN DAPAT BERUBAH. JANGAN SEKALI-KALI MELABEL,  ANI ANAK YANG TERHEBAT, ALI YANG TERMALAS, LAINNYA TERGANTUNG ANGIN.

Semoga menginspirasi.

Jember, 27 Januari 2011
Di Pasar Loak Gebang, sambil menunggu jahitan sepatu.